Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
banner1
banner2
M-KRPL
Kalendar Tanam

Kegiatan Dalam Gambar

Download PDF Files

TEKNOLOGI BUDIDAYA CABAI MERAH DENGAN PUPUK CAIR PERANGSANG PDF Cetak E-mail
Oleh Abdul Azis   
Kamis, 13 Januari 2011 10:27

Cabai telah menjadi kebutuhan sehari hari masyarakat. Cabai kini bahkan mempengaruhi harga komditas hasil pertanian lain. Petani di Aceh bisa menjadi hebat apabila berhasil mengelola usahatani cabainya. Oleh karena itu, mesti ada metode yang tepat untuk membudidayakan cabai di Aceh, Khususnya cabai merah mengingat harganya yang lumayan mengiurkan.

Balai pengkajian teknologi pertanian (BPTP) Aceh sekarang tengah mengembangkan budidaya cabai dengan baik di daerah Aceh Besar dan Pidie Jaya. Hal tersebut dikatakan peneliti BPTP Aceh, Muhammad Ramlan, SP.

”Teknologi penanaman cabai merah yang dugunakan pada pertanian di daerah tersebut yaitu dengan memberi pupuk cair perangsang pertumbuhan pada cabai atau dikenal dengan sebutan Starter Solution Technology (SST)”, ujar Ramlan. Ia mengatakan, tanaman sayuran membutuhkan unsur hara yang banyak. Masa pertumbuhannya relatif singkat. Apabila ingin meningkatkan hasil tanaman, ketersediaan unsur hara yakni NPK di dalam tanah harus tetap tinggi terus menerus. Mulai dari awal tanam sampai masa panen tiba.

Prinsip SST adalah teknologi pemberian larutan untuk merangsang pertumbuhan awal tanaman yang dilakukan pada saat tanam dan diberikan langsung dekat akar tanaman. Hal ini berarti ketersediaan unsur hara lebih awal pada tanaman muda sebelum akarnya kuat dan akan berdampak lebih efisien dalam pengunaan pupuk. Melalui SST, kata Ramlan, petani dapat meningkatkan pertumbuhan awal tanaman cabai. Kebutuhan pupuk juga berkurang. Adanya peningkatan jumlah bunga dan unsur hara sehingga tersedia untuk tanaman dari pupuk organik. Kemudiaan selain dapat mengurangi pencemaran lingkungan juga dapat menghasilkan produksi cabai lebih banyak dari sistem konvesional yang biasa diterapkan masyarakat.

”Sebaiknya petani menggunakan bibit unggul didatangkan dari luar Aceh yang tersedia dalam bentuk kemasan, karena bibit cabai lokal kualitasnya masih kurang baik. Tingkat produktivitasnya masih relatif rendah”, jelasnya.

Penerapan SST harus dilakukan pada musim kering bukan pada musim penghujan. Apabila metode tersebut dilakukan pada musim hujan maka hasilnya kurang nampak. Selain itu Ramlan menyarankan petani agar menggunkan pupuk kandang bila menanam cabai apalagi disaat penerapan SST. Pemakaian pupuk kandang harus sesuai dengan ketentuan.

”Pupuk organik sudah lama dikenal oleh petani, namun sejak Revolusi Hijau petani mulai banyak menggunakan pupuk kimia yang dapat merusak linkungan dan terjadinya penurunan kesuburan tanah. Jadi sudah waktunya petani kembali menggunakan pupuk kandang atau organik”.

Ramlan menuturkan, penggunaan metode SST harus sesuai dengan aturan pula khususnya mengenai jarak waktu, jika tidak maka pertumbuhan cabai akan kurang baik. Dalam teknologi ni petani tak perlu lagi memberi pupuk butiran. Sayangnya, petani selama ini hanya menabur NPK tanpa adanya zat zat lain yang mengandung nitrogen bekadar tinggi.

“Nitrogen sifatnya berpindah apalagi hujan. Jika tanah telah basah dan tergenang air maka nitrogen akan hilang. Kadangkala nitrogen itu akan menguap atau terbawa oleh air. Maka untuk menghindari hal tersebut petani harus menyedikan asupan nitrogen yang cukup bagi tanaman cabai”, pungkas dia.

Biasanya kata Ramlan, para petani memberi pupuk dalam jumlah banyak tapi tidak teratur, petani kandang memberi pupuk tiga bulan sekali. Seharusnya tanaman cabai bukan butuh banyak pupuk melainkan cabai membutuhkan pemberian pupuk yang teratur.

“Lebih bagus memberi pupuk sedikit-sedikit tapi sering. Dengan begitu pupuk-pupuk itu mampu diserap oleh tanaman pelan-pelan”, ujarnya.

Terkait dengan hasil dengan produksi bila menggunakan SST itu bisa meningkat 25 persen bahkan lebih. Percobaan yang telah dilakukan telah menghasilkan 1,5 kilogram cabai perbatangnya. Akan tetapi, hasil panen dengan pola SST ini dipengaruhi oleh kondisi alam seperti cuaca dan hama penyakit.

“Sedangkan pola tanam yang biasa paling banyak hanya menghasilkan 1,1 kilogram per batang cabai. Bahkan dalam masyarakat umumnya hanya menghasilkan 0,5 - 07 kilogram per batang cabai. Jadi bedanya pola SST dengan konvensional bisa sampai 1 kilogram,” sebut Ramlan.

Di samping itu, cara merawat cabai lainya yakni dengan memberi kelambu bagi bibit tanaman cabai yang masih muda. Semacam jaring agar terhindar dari seranga-serangga perusak. Ramlan berharap petani mau mencoba merapkan sistem SST tersebut supaya petani cabai di Aceh lebih berjaya dalam usaha tani.[ABDA]

Sumber : Tabloid PEUDAP edisi Nopember 2009

 

 

LAST_UPDATED2
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com